Selasa, 30 Januari 2018

Story ; Dialektika antara Perjuangan, Pengorbanan dan Kesuksesan



Dialektika antara Perjuangan, Pengorbanan dan Kesuksesan

       Saya adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia usia 2,5 tahun.  Gelar S.Kep.,Ns. memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) di Kabupaten Manggarai (Pulau Flores), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya mulai bekerja di Lembaga STIKes itu semenjak tahun 2013. Perlu diketahui juga bahwa kepesertaan saya di awardee LPDP masih seusia umur jagung. Alasannya,  saya menjadi salah satu penerima beasiswa afirmasi batch 2017, yang baru selesai mengikuti Program Persiapan Keberangkatan yang lebih dikenal dikalangan awardee LPDP dengan nama PK-114 Palapa Nagarabhakti  dibulan November tahun 2017 lalu. Jadi, saya baru resmi menjadi awardee LPDP. Saat ini, saya sedang mengikuti program pengayaan Bahasa Inggris khususnya Program Beasiswa Afirmasi Dalam Negeri LPDP Batch 8 di UPT Bahasa ITB. Program ini telah saya ikuti selama kurang lebih tiga (3) bulan ini karena dimulai dari tanggal 06 November 2017. Saya sangat bersyukur karena pihak beasiswa LPDP memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti program ini selama 6 bulan, dengan pertimbangan Score TOEFL saya masih dibawah 450. Saya merasa difasilitasi dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi tujuan. Hal seperti ini tentu saja  memudahkan kami para awardee LPDP yang masih belum mendapatkan LOA dari kampus tujuan untuk lebih matang dalam melanjutkan proses ke tahap selanjutnya.
       Setelah menyelesaikan program S1 Ners di salah satu STIKES di Surabaya tahun 2012, saya kembali ke Flores dan bekerja sebagai salah satu tenaga sukarela di salah satu Puskesmas daerah asal saya. Sementara itu, saya juga memasukan lamaran pekerjaan ke salah satu STIKes yang sekarang menjadi tempat kerja saya. Saya diterima menjadi salah satu tenaga asisten pengajar sambil menunggu giliran untuk dikuliahkan ke jenjang magister. Namun, rupanya saya belum mendapatkan kesempatan itu karena beberapa alasan mendasar. Setelah satu tahun bekerja saya memutuskan untuk menikah, kemudian saya hamil, melahirkan dan menunggu anak saya berusia 2 tahun baru memutuskan untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang magister keperawatan maternitas. Namun, saya mendengar berita tentang ketidakpastian ‘’waktu’’ dikirim oleh Yayasan tempat kerja saya untuk melanjutkan magister pada tahun 2017. Maka saya memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP jalur Afirmasi daerah 3T. Karena sebelumnya saya sudah membuat akun seleksi calon penerima beasiswa LPDP, maka saya hanya perlu melengkapi beberapa syarat administrasi dan membuat essay. Sempat rasa putus asa melanda karena tidak memiliki sertifikat TOEFL dan harus memenuhi standar minimal 400. Daerah kami tidak mempunyai lembaga resmi untuk bisa memfasilitasi kami dalam mengikuti tes TOEFL ITP. Namun, Universitas Nusa Cendana, salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Provinsi kami mewadahi pelaksanaan tes TOEFL ITP di daerah kami yang tergolong daerah 3T, tepatnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Biaya test itu cukup memadai, karena jika kami harus ke kota Kupang (yang notabene berbeda pulau) untuk mengikuti tes, otomatis biayanya akan lebih tinggi. Rasa ragu, putus asa dan ketidakpercayaan diri pun semakin kuat melanda. Saya tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP dan minimal saya harus meyakinkan diri untuk mencapai minimal Score toefl 400 agar bisa mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi LPDP batch 2017. Mengapa saya tidak percaya diri? Karena, saat itu, suami saya sedang melanjutkan studi magister juga di UNS, dan saya tinggal sendiri bersama putri saya yang masih membutuhkan perhatian dan bergantung pada kebutuhan ASI. Saya harus bisa membagi waktu dan mengimbangi antara pekerjaan di STIKes , dan tidak mengorbankan perhatian dan kasih sayang terhadap anak saya yang masih kecil itu. Maka saya pun memutuskan untuk menitipkan anak saya ke Tempat Penitipan Anak (TPA). Setiap pagi, saya harus menyiapkan makanan dan perlengkapan untuk putri saya sebelum berangkat dari rumah. Dengan sepeda motor, saya menggendong ransel putri kecil saya dengan segala perlengkapannya yang terlihat penuh. Setelah menitipkan putri saya di TPA, saya melanjutkan perjalanan ke tempat kerja karena Pkl. 07.00, aktivitas kantor sudah dimulai. Awalnya, saya merasa sulit melakukan itu.  Namun saya berusaha menikmati semuanya dan ternyata saya berhasil menikmatinya tanpa mengeluh sedikit pun.
         Kesibukan saya semakin tinggi, karena saat itu kami harus mempersiapkan akreditasi STIKes. Jadi saya benar-benar tidak mempunyai kesempatan waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP. Hal inilah yang membuat saya berpikir seribu kali untuk mengikuti tes TOEFL ITP yang waktunya sebentar lagi dan saya harus memutuskan untuk segera membayar biaya administrasi untuk mengikuti tes tersebut. Jika saya tidak memiliki sertifikat TOEFL ITP, maka akibatnya saya tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi LPDP. Berbekal keyakinan, saya memutuskan untuk mengikuti tes, membayar biaya administrasi dan berangkat ke kota Labuan Bajo untuk mengikuti tes tersebut. Setelah mengikuti tes tersebut selama dua (2) minggu, diketahui bahwa hasil tes TOEFL ITP saya memenuhi standar untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi LPDP. Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Saya kembali cemas karena sertifikat TOEFL belum bisa didapatkan dengan alasan terkendala pengirimannya. Saya tidak kehilangan akal, lalu saya meminta orang yang memegang sertifikat TOEFL itu untuk Scan dan mengirimkannya kepada saya via email. Setelah semua persyaratan lengkap, saya segera mensubmit  akun Seleksi Calon Penerima Beasiswa Afirmasi LPDP. Setelah mengikuti beberapa tahap proses seleksi, saat yang paling dinantikan adalah menerima kabar kelulusan dari tahap terakhir seleksi. Saya bisa katakan bahwa itulah salah satu momentum terhebat dan istimewa dalam hidup saya. Bagaimana tidak, saya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh beasiswa dan menyandang gelar awardee LPDP, salah satu beasiswa ternama di Indonesia. Harus saya akui bahwa saya beruntung sekali menjadi awardee LDPP. Dikatakan demikian, karena dengannya, saya mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri saya. Saya juga mendapatkan kesempatan berharga bertemu dengan banyak orang hebat, dimana sebelumnya saya tidak pernah bermimpi untuk akan mengalaminya. Menjadi bagian dari awardee LPDP, memotivasi dan meningkatkan kepercayaan diri saya diri. Hal ini juga mendorong saya untuk selalu optimis dalam melakukan segala sesuatu yang telah diagendakan dalam hidup saya. Selain rasa syukur karena akhirnya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, saya akhirnya merasa berguna menjadi anak bangsa yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi kepada bangsa Indonesia. Dari profesi yang saya sandang, saya bisa melibatkan diri dalam proses pembangunan Bangsa dan Negara. Saya merasa bahwa eksistensi saya sebagai ens sociale, dapat saya aktualisasikan dalam kiprah sosial saya.
Hal ini semakin disadari penting, karena di daerah saya, angka kematian ibu dan anak masih sangat tinggi, walaupun tenaga kesehatan sudah tersebar diberbagai pelosok daerah. Fenomena inilah yang mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke Spesialis Magister keperawatan Maternitas di Universitas Indonesia. Tidak hanya berkontribusi di bidang profesi, namun jika berkenan, saya juga ingin berkontribusi di bidang-bidang lainnya. Saya berkomitmen untuk melakukannya secara bertanggung jawab demi memajukan masa depan anak bangsa dan Negara Indonesia. Saat ini, saya sedang berusaha mengumpulkan buku dan bahan bacaan lainnya dibidang pendidikan khususnya, untuk anak usia dini dan sekolah dasar. Saya sedang berusaha untuk menumbuhkan minat baca pada anak bangsa. Karena menurut saya, dengan membaca adalah cara yang mudah untuk mencetak generasi masa depan bangsa yang cerdas dan berbakti kepada nusa dan bangsa. Menumbuhkembangkan minat baca adalah cikal bakal menciptakan generasi bangsa yang cerdas. Dengan membaca, mereka akan menjadi makhluk berakal, berbudi, berintegritas dan berbakti kepada Negara. Untuk segala cita-cita luhur ini, saya berharap semua proses ke tahap berikutnya dapat berjalan sesuai dengan rencana. Saya akan tetap berusaha sekuat tenaga agar hal seperti ini tak hanya menjadi mimpi, tetapi juga menjadi kenyataan. Diatas semua itu, sebagai orang beriman, saya menyerahkan sepenuhnya segala harapan, usaha dan kerja keras ini kepada Tuhan Yang Maha Pengatur Segala.
        Saya berharap agar cerita ini dapat menginspirasi anak bangsa di seluruh pelosok tanah air Indonesia agar tidak lelah apalagi berputus asa dalam memperjuangkan cita-cita. Agar bisa mencapai hasil maksimal dan kesuksesan, maka dibutuhkan perjuangan dan kera keras. Kesuksesan selalu berdampingan dengan Pengorbanan. Motto hidup saya adalah: Tak Ada Kesuksesan Tanpa Perjuangan dan Tak Ada Perjuangan Tanpa Pengorbanan. Saya ingin meyakinkan anak bangsa Indonesia bahwa semua orang bisa mendapatkan apa yang layak ia dapatkan. Kita hanya perlu kolaborasi antara optimisme dan kerja keras. Jika harus ada yang perlu dikorbankan, yakinkanlah diri untuk selalu berpikir positif sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Kita berkorban, buka berarti kita akan dikorbankan, tetapi untuk mendapatkan apa yang menjadi impian kita. Kesempatan selalu ada untuk setiap orang, kita hanya perlu memutuskan untuk memanfaatkan, mengambilnya, mengabaikan, atau melepaskannya. Setiap orang memiliki talenta. Untuk menjadi hebat, setiap orang berhak untuk memperjuangkannya dan kesempatan itu ada. Jadi, ada dialektika antara perjuangan, pengorbanan dan kesuksesan. Ketiganya terintegrasi secara komplementaris (saling melengkapi) dalam alur simbiosis mutualisme. Jika ingin mendapatkan yang terbaik, berikanlah yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar