Dialektika antara Perjuangan, Pengorbanan
dan Kesuksesan
Setelah menyelesaikan program S1 Ners di salah satu
STIKES di Surabaya tahun 2012, saya
kembali ke Flores dan bekerja sebagai salah satu tenaga sukarela di salah satu Puskesmas daerah asal saya. Sementara itu, saya juga memasukan lamaran pekerjaan ke salah satu STIKes yang sekarang menjadi
tempat kerja saya. Saya diterima
menjadi salah satu tenaga asisten pengajar sambil menunggu giliran untuk
dikuliahkan ke jenjang magister. Namun, rupanya saya belum mendapatkan
kesempatan itu karena beberapa alasan mendasar. Setelah satu tahun bekerja saya
memutuskan untuk menikah, kemudian saya hamil, melahirkan dan menunggu anak
saya berusia 2 tahun baru memutuskan
untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang magister
keperawatan maternitas. Namun, saya mendengar berita tentang ketidakpastian ‘’waktu’’
dikirim oleh Yayasan
tempat kerja saya untuk melanjutkan magister pada tahun 2017. Maka saya memutuskan untuk mengikuti seleksi
beasiswa LPDP jalur Afirmasi daerah 3T. Karena sebelumnya saya sudah membuat
akun seleksi calon penerima beasiswa LPDP,
maka saya hanya perlu melengkapi beberapa syarat administrasi dan membuat
essay. Sempat rasa putus asa melanda karena tidak memiliki sertifikat TOEFL dan
harus memenuhi standar minimal 400. Daerah kami tidak mempunyai lembaga resmi
untuk bisa memfasilitasi kami
dalam
mengikuti tes TOEFL ITP. Namun,
Universitas Nusa Cendana,
salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Provinsi kami mewadahi
pelaksanaan tes TOEFL ITP di daerah kami yang tergolong daerah 3T, tepatnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat yang letaknya
tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Biaya test itu cukup
memadai,
karena jika kami harus ke kota Kupang (yang notabene berbeda pulau) untuk mengikuti tes, otomatis biayanya akan lebih
tinggi. Rasa ragu,
putus asa dan ketidakpercayaan diri pun semakin kuat melanda. Saya tidak
memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP dan minimal saya harus meyakinkan diri untuk mencapai minimal Score
toefl 400 agar bisa mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi LPDP batch
2017. Mengapa saya tidak percaya diri? Karena, saat itu, suami saya sedang melanjutkan studi
magister juga di UNS, dan saya tinggal sendiri bersama putri saya yang masih membutuhkan perhatian dan bergantung pada kebutuhan
ASI. Saya harus bisa membagi waktu dan mengimbangi antara pekerjaan di STIKes , dan tidak mengorbankan perhatian dan kasih sayang
terhadap anak saya yang masih kecil itu. Maka saya pun memutuskan untuk
menitipkan anak
saya ke Tempat Penitipan Anak (TPA). Setiap pagi, saya harus menyiapkan makanan dan perlengkapan
untuk putri saya sebelum berangkat dari rumah. Dengan sepeda motor, saya menggendong ransel putri kecil
saya dengan segala perlengkapannya yang terlihat penuh. Setelah menitipkan putri saya di TPA, saya melanjutkan perjalanan ke tempat
kerja karena Pkl. 07.00, aktivitas kantor sudah dimulai. Awalnya, saya merasa sulit melakukan itu. Namun
saya berusaha menikmati semuanya dan ternyata saya berhasil menikmatinya tanpa mengeluh sedikit
pun.
Kesibukan saya
semakin tinggi, karena saat itu kami harus mempersiapkan akreditasi STIKes. Jadi saya benar-benar tidak mempunyai kesempatan waktu
untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP. Hal inilah
yang membuat saya berpikir seribu kali untuk mengikuti tes TOEFL ITP yang
waktunya sebentar lagi dan saya harus memutuskan untuk segera membayar biaya
administrasi untuk mengikuti tes
tersebut. Jika saya tidak memiliki sertifikat TOEFL ITP, maka akibatnya saya tidak memiliki
kesempatan untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi LPDP. Berbekal keyakinan, saya memutuskan untuk mengikuti tes,
membayar biaya administrasi dan berangkat ke kota Labuan Bajo untuk mengikuti
tes tersebut. Setelah mengikuti tes
tersebut selama dua (2) minggu, diketahui bahwa hasil tes TOEFL ITP
saya memenuhi standar untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa afirmasi
LPDP. Namun, tantangan tidak
berhenti di situ. Saya kembali cemas karena sertifikat
TOEFL belum bisa didapatkan
dengan alasan terkendala pengirimannya. Saya tidak kehilangan akal, lalu saya meminta orang yang memegang sertifikat TOEFL itu
untuk Scan dan mengirimkannya
kepada saya via email. Setelah semua persyaratan lengkap, saya segera mensubmit akun Seleksi Calon Penerima Beasiswa Afirmasi
LPDP. Setelah mengikuti beberapa tahap proses seleksi, saat yang paling
dinantikan adalah menerima kabar kelulusan dari tahap terakhir seleksi. Saya bisa katakan bahwa itulah salah satu momentum
terhebat dan istimewa dalam hidup saya. Bagaimana tidak, saya
mendapatkan kesempatan untuk memperoleh beasiswa dan menyandang gelar awardee
LPDP, salah satu
beasiswa ternama di Indonesia. Harus
saya akui bahwa saya beruntung sekali menjadi awardee LDPP. Dikatakan demikian, karena dengannya,
saya mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri
saya. Saya juga mendapatkan kesempatan berharga bertemu dengan banyak orang
hebat, dimana sebelumnya saya tidak
pernah bermimpi untuk akan mengalaminya. Menjadi bagian
dari awardee LPDP, memotivasi dan
meningkatkan kepercayaan diri saya diri. Hal ini juga mendorong saya untuk
selalu optimis dalam melakukan segala sesuatu yang telah diagendakan dalam hidup saya. Selain
rasa syukur karena akhirnya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya,
saya akhirnya merasa berguna menjadi anak bangsa yang memiliki rasa
nasionalisme yang tinggi kepada bangsa Indonesia. Dari profesi yang saya sandang, saya
bisa melibatkan diri dalam proses pembangunan Bangsa dan Negara. Saya
merasa bahwa eksistensi saya sebagai ens sociale, dapat saya aktualisasikan
dalam kiprah sosial saya.
Hal ini semakin
disadari penting, karena di daerah saya, angka kematian ibu dan anak masih
sangat tinggi,
walaupun tenaga kesehatan sudah tersebar diberbagai pelosok daerah. Fenomena inilah yang mendorong saya untuk
melanjutkan pendidikan ke
Spesialis Magister keperawatan Maternitas di
Universitas Indonesia. Tidak hanya berkontribusi di bidang profesi, namun jika berkenan, saya juga ingin berkontribusi di
bidang-bidang lainnya.
Saya berkomitmen untuk melakukannya secara bertanggung jawab demi memajukan
masa depan anak bangsa dan Negara Indonesia. Saat ini, saya sedang berusaha mengumpulkan buku
dan bahan bacaan lainnya dibidang pendidikan khususnya, untuk anak usia dini
dan sekolah dasar. Saya sedang berusaha untuk menumbuhkan minat baca pada anak bangsa. Karena menurut
saya, dengan membaca
adalah cara yang mudah untuk mencetak
generasi masa depan bangsa yang cerdas dan berbakti kepada nusa dan bangsa.
Menumbuhkembangkan minat baca adalah cikal bakal menciptakan
generasi bangsa yang cerdas. Dengan membaca, mereka akan menjadi makhluk
berakal, berbudi, berintegritas dan berbakti kepada Negara. Untuk segala
cita-cita luhur ini, saya berharap semua proses ke tahap
berikutnya
dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Saya akan tetap berusaha sekuat tenaga agar hal seperti ini tak hanya menjadi
mimpi, tetapi juga menjadi kenyataan. Diatas semua itu, sebagai
orang beriman,
saya menyerahkan sepenuhnya segala harapan, usaha dan kerja keras ini kepada Tuhan Yang Maha Pengatur Segala.
Saya berharap agar cerita
ini dapat menginspirasi anak bangsa di seluruh
pelosok tanah air
Indonesia agar tidak lelah
apalagi berputus
asa dalam
memperjuangkan cita-cita.
Agar bisa mencapai hasil maksimal dan kesuksesan, maka dibutuhkan perjuangan dan kera keras. Kesuksesan selalu
berdampingan dengan Pengorbanan. Motto hidup
saya adalah:
“Tak Ada Kesuksesan Tanpa Perjuangan dan Tak Ada Perjuangan Tanpa Pengorbanan”. Saya ingin meyakinkan anak bangsa Indonesia bahwa semua orang bisa mendapatkan apa yang layak ia dapatkan.
Kita hanya perlu kolaborasi antara optimisme dan kerja keras. Jika harus ada yang
perlu dikorbankan, yakinkanlah diri untuk selalu berpikir positif sehingga
dapat mengambil keputusan yang tepat. Kita berkorban, buka berarti kita akan dikorbankan, tetapi untuk
mendapatkan apa yang menjadi impian kita. Kesempatan selalu ada
untuk setiap orang, kita hanya perlu memutuskan untuk memanfaatkan,
mengambilnya, mengabaikan, atau melepaskannya. Setiap orang memiliki talenta. Untuk menjadi hebat, setiap orang berhak untuk memperjuangkannya dan kesempatan
itu ada. Jadi, ada
dialektika antara perjuangan, pengorbanan dan kesuksesan. Ketiganya terintegrasi
secara komplementaris (saling melengkapi) dalam alur simbiosis mutualisme. Jika
ingin mendapatkan yang terbaik, berikanlah yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar